Jumat, 02 Desember 2016

Jenis Filsafat

1. Filsafat sosial, yang mengkaji manusia dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial
2. Filsafat biologi, yang menelitimanusia dengan unsur raganya
3. Filsafat antropologi, meneliti manusia dengan unsur kesatuan jiwa dan raganya
4. Filsafat etika, meneliti manusia dengan unsur kehendaknya untuk berbuat baik dan buruk
5. Filsafat estetika, yang mengkaji manusia dari unsur raganya
6. Filsafat agama, mengkaji manusia dengan unsur kepercayaannya terhadap suprnatural, dan lain-lain.

Apasajakah Ciri dari Filsafat?

1. Filsafat sebagian ilmu, yaitu  bahwa filsafat berusaha untuk mencari tentang hakikat atau inti dari suatu hal. Hakikatnya ini sifatnya sangat dalam dan hanya dapat dimengerti oleh akal. Untuk mencari pengetahuan hakikat, haruslah dilkukan dengan abstraksi, yaitu semua perbuatan akal untuk menghilangkan keadaan, sifat-sifat yang secara kebetulan, sehinggan akhirnya muncul substansi  sifat mutlak)

Pola Pendekatan yang Merusak

Di sini tidak mungkin membahas secara kongkret cara-cara perlakuan alam yang perlu diubah, melainkan yang dicari adalah kesalahan dasar dalam sikap manusia. Dimana kesalahan dalam pendekatan manusia terhadap alam sehingga ia semakin merusaknya?
1. Sikap Teknokratis
Pola pendekatan manusia modern terhadap alam dapat disebut teknokratis (dari kata Yunani "tekne", dan "krattein", menguasai). Artinya, manusia memandang alam sebagai objek penguasaan. Alam menjadi sekadar sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia. Alam menjadi dianggap tambang kekayaan dan energi yang perlu dieksploitasi atau dimanfaatkan. Bahwa alam bernilai pada dirinya sendiri dan oleh karenanya yang perlu dipelihara, tidak termasuk ke dalam wawasan teknokratis. Sikap teknokratis dapat diringkas sebagai sikap "merampas dan membuang": alam dibongkar untuk mengambil apa saja yang diperlukan, dan apa yang tidak diperlukan, termasuk produk-produk samping pekerjaan manusia, begitu saja dibuang.

Tanggung Jawab Lingkungan Hidup

Karangan ini, selain menegaskan betapa besar tanggung jawab kita generasi sekarang terhadap keutuhan lingkungan hidup di bumi ini, mau menunjukkan bahwa tanggung jawab itumenunjukkan jadi tantangan bagi umat beragama, khususnya umat kristiani untuk mengubah sikap tradisional mereka terhadap ciptaan alamiah karena sikap itu tidak memadai lagi.
Baru sejak kurang lebih 20 tahun umat manusia mulai menyadari bahwa ia berada dalam proses penghancuran alam, dan bahwa alam itu adalah lingkungan hidup manusia, malahan satu-satunya lingkungan hidupnya. Sehingga apabila lingkungan ini sudah rusak, manusia telah menhancurkan lingkungan daripadanya ia harus hidup sendiri. 

Perdamaian sebagai Nilai

Bukan secara etis saja pemecahan konflik secara paksa harus dinilai negatif. Dari segi keberlangsungan kehidupan umat manusia, setiap perkelahian merupakan ancaman. Pada anak atau binatang (yang masih murni digerakkanCVinsting) kelihatan bahwa perkelahian dalam dinamikanya yang sebenarnya menuju pembunuhan. Itulah sebabnya hanya jenis-jenis binatang yang pada waktunya mengembangkan mekanisme instinktual untuk mengerem agresi dapat mempertahankan diri melalui seleksi survival of the fittest dimasukkan ke kandang tikus tentu akan dibunuh. Sebaliknya, serigala jantan yang kalah berkelahi, menyerah; dengan demikian ia "merangsang" insting pengerem insting pembunuh dalam pemenang dan dengan demikian dibiarkan hidup dan dapat memperkuat kelompoknya. 

Apa itu Konflik?

Tantangan bagi perdamaian adalah konflik. Demi kejelasan argumentasi selanjutnya di sini saya membedakan antara "konflik" sebagai paham yang lebih umum di satu pihak dan "konflik terbuka" dan perkelahian di lain pihak. Konflik saya pahami sebagai situasi interaktif yang dapat menimbulkan konflik terbuka berupa tabrakan, perkelahian, atau perang. Dengan mengesampingkan konflik yang (atau: sejauh ia) bersifat subjektif [dalam arti tersebut di atas] konflik merupakan kondisi manusia yang tak terelakkan. Adanya konflik berarti ada perbedaan paham atau alternatif alternatif bertindak atau kepentingan-kepentingan yang saling mengecualikan.

Kematian yang Manusiawi

Yang sebenarnya kita butuhkan ialah agar kita menmukan kembali harkat manusiawi kematian.
Teknologi kedokteran moderen mempunyai akibat samping bahwa kematian sebagai salah satu saat terpenting manusia semakin didehumanisasikan. Philippe Arie's menceriterakan tentang seorang biarawan dalam keadaan sakit terminal di ICU. Ia dikunjungi oleh seorang kawan sebiara. Kawan itu hanya boleh melihat pasien melalui kaca dan mereka hanya dapat omong melalui suatu sound-system. Pasien terbaring di atas tempat tidur. Tubuhnya berhubungan melalui pelbagai slang dengan macam-macam aparatur. Begitu tamu mulai bicara, pasien biarawan itu membebaskan tangannya yang terikat, melepaskan masker pernafasan dan mengucapkan kata-kata yang terakhir: "Kematuanku dicuri orang".